MATERI PAI KELAS 12 BERPIKIR KRITIS DAN BERSIKAP DEMOKRASI


 

KD I.  BERPIKIR KRITIS DAN BERSIKAP DEMOKRASI



A.      BERFIKIR KRITIS

 

1.       Apa Itu “Berpikir Kritis” ?

Berpikir kritis, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data dan fakta yang valid (sah) serta argumen yang akurat.

Tentu saja sikap kritis ini harus didukung oleh sikap yang bertanggung jawab terhadap apa yang drkritisi.Sikap kritis dalam suasana demokrasi juga perlu didukung dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara damai.

Masalah yang berasal dari perbedaan pendapat dapat berujung konflik, untuk itu perlu ditekankan penyelesaian masalah dilakukan dengan damai bukan kekerasan.

 

2.       Menganalisis Makna Q.S. Ali-Imran/3:190-191 serta Hadis tentang Berfikir Kritis

Ayat al-Quran dan Terjemahannya yang Mengandung Perintah Berpikir Kritis.

Q.S. Ali 'Imran/3:190-191

 

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang yang mengingat Allah, sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksa api neraka.'" (QS Ali Imran [3]: 190-191).

 

Makna Surat Ali Imran

·         ayat 190 ini menjelaskan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab. Yakni orang-orang yang berakal. Orang-orang yang mau berpikir. Orang-orang yang mau memperhatikan alam. Orang-orang yang kritis.

·         Ayat 191 ini menjelaskannya. Bahwa ulul albab adalah orang yang banyak berdzikir dan bertafakkur. Ia berdzikir dalam segala kondisi baik saat berdiri, duduk ataupun berbaring. Ia juga mentafakkuri (memikirkan) penciptaan alam ini hingga sampai pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan alam tidak ada yang sia-sia. Maka ia pun berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari siksa neraka.

 

3.           Menyajikan Hadis Tentang Berpikir Kritis Beserta Penjelasannya.

HR. At-Tirmizi dan beliau berkata: Hadis Hasan

 

Artinya: Dari Abu Ya’la yaitu Syaddad Ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharapkepada Allah Swt. dengan harapan kosong”. (HR. At-Tirmizi dan beliau berkata: Hadis Hasan).

 

Dalam hadis ini Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang pandangannya jauh ke depan, menembus dinding duniawi, yaitu hingga kehidupan abadi yang ada di balik kehidupan fana di dunia ini. Tentu saja, hal itu sangat dipengaruhi oleh keimanan seseorang kepada adanya kehidupan kedua, yaitu akhirat. Orang yang tidak meyakini adanya hari pembalasan, tentu tidak akan pernah berpikir untuk menyiapkan diri dengan amal apa pun. Jika indikasi “cerdas” dalam pandangan Rasulullah saw. adalah jauhnya orientasi dan visi ke depan (akhirat), maka pandangan-pandangan yang hanya terbatas pada dunia, menjadi pertanda tindakan “bodoh” atau “jahil” (Arab, kebodohan=jahiliyah).


Baca Juga : Materi Iman Kepada Hari Akhir

                    Bekerja Keras dan Bertanggung Jawab

                    

 

4.       Manfaat Berpikir Kritis

Adapun manfaat berfikir kritis di antaranya adalah sebagai berikut.

1.      Dapat menangkap makna dan hikmah di balik semua ciptaan Allah Swt.

2.      Dapat mengoptimalkan pemanfaatan alam untuk kepentingan umat manusia.

3.      Dapat mengambil inspirasi dari semua ciptaan Allah Swt. Dalam mengembangkan IPTEK.

4.      Menemukan jawaban dari misteri penciptaan alam (melalui penelitian).

5.      Mengantisipasi terjadinya bahaya, dengan memahami gejala dan fenomena alam.

 

5.        Menerapkan Perilaku Mulia

Berikut ini adalah sikap dan perilaku terpuji yang harus dikembangkan terkait dengan berpikir kritis berdasarkan ayat al-Qur'an dan hadis di atas yaitu sebagai berikut.

1.      Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah akal sehat.

2.      Senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah alam semesta bagi manusia.

3.      Melakukan kajian-kajian terhadap ayat-ayat al-Quran secara lebih mendalam bersama para pakar di bidang masing-masing.

4.      Menjadikan ayat-ayat al-Quran sebagai inspirasi dalam melakukan penelitianpenelitian ilmiah untuk

mengungkap misteri penciptaan alam.

5.      Menjadikan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) sebagai inspirasi dalam mengembangkan IPTEK.

 

6.       Kesimpulan

 

1.     Berpikir secara kritis dan bertindak secara demokratis menurut ayat Al-Qur’an merupakan perilaku yang pada hakikatnya memiliki banyak manfaat, terutama dalam hal bersyukur dan memecahkan masalah melalui proses kerja sama dalam musyawarah.

2.     Ayat Al-Qur’an yang membahas tentang hakikat serta manfaatdari berpikir secara kritis dan bersikap secara demokratis adalah Q.S. Ali-‘Imran ayat 190-191dan Q.S. Ali-‘Imran ayat 159.

3.     Pengembangan sikap dan perilaku terpuji terkait dengan berpikir kritis dan bertindak secara demokratis merupakan hal penting yang perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari guna perwujudan implementasi nyata dari ayat Al-Qur’an.

 

B.      BERSIKAP DEMOKRASI

 

1.       Apa Itu “Demokrasi

      Secara kebahasaan, demokrasi terdiri atas dua rangkaian kata, yaitu “demos” yang berarti rakyat dan “cratos”yang berarti kekuasaan. Secara istilah, kata demokrasi ini dapat ditinjau dari dua segi makna.

·         Pertama, demokrasi dipahami sebagai suatu konsep yang berkembang dalam kehidupan politik pemerintah.

·         Kedua, demokrasi dimaknai sebagai suatu konsep yang menghargai hak-hak dan kemampuan individu dalam kehidupan bermasyarakat.

 

2.       Menganalisis Makna Q.S. Ali-Imran/3:159 serta Hadis tentang Demokrasi

Ayat al-Quran dan Terjemahannya yang Mengandung Perintah Berpikir Kritis.

Q.S. Ali 'Imran/3:159

 

Berikut ini bunyi bacaan Surah Ali Imran Ayat 159 beserta dengan artinya:

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

Artinya: ”Maka disebabkan rahmat dari Allah Swt. lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt. menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” Q.S. ali-Imran/3:159

 

Makna Surat Ali Imran/3:159

Ayat di atas menjelaskan bahwa meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi Rasulullah saw. tetap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar. Bahkan memaafkan dan memohonkan ampun untuk mereka. Seandainya Rasulullah saw. bersikap keras, tentu mereka akan menaruh benci kepada beliau. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau juga senantiasa memberi maaf terhadap orang yang berbuat salah serta memohonkan ampun kepada Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan mereka.

 

3.       Menyajikan Hadits Tentang Demokrasi Beserta Penjelasannya

HR. at-Tirmizi

 

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih sering bermusyawarah dengan para sahabat dari pada Rasulullah saw.” [HR. at-Tirmizi].

Hadis di atas menjelaskan bahwa menurut pandangan para sahabat, Rasulullah saw. adalah orang yang paling suka bermusyawarah. Dalam hal urusan penting, beliau senantiasa melibatkan para sahabat untuk dimintai pendapatnya, seperti dalam urusan strategi perang. Sikap Rasulullah saw. tersebut menunjukkan salah satu bentukkebesaran jiwa beliau dan kerendahan hatinya (tawadhu’), meskipun memiliki status sosial paling tinggi dibanding seluruh umat manusia, yaitu sebagai utusan Allah Swt. Namun demikian,kedudukannya yang begitu mulia di sisi Allah Swt.

4.       Manfaat Demokrasi

1.     Melatih untuk menyuarakan pendapat (ide)

2.     Masalah dapat segera terpecahkan

3.     Keputusan yang diambil memiliki nilai keadilan

4.     Hasil keputusan yang diambil dapat menguntungkan semua pihak

5.     Dapat menyatukan pendapat yang berbeda

6.     Adanya kebersamaan

7.     Dapat mengambil kesimpulan yang benar

8.     Mencari kebenaran dan menjaga diri dari kekeliruan

9.     Menghindari celaan

10.  Menciptakan stabilitas emosi

 

5.       Menerapkan Perilaku Mulia

 

Bersikap Demokratis sesuai Pesan Q.S.ali-Imran/3:159 dengan cara menerapkan perilaku demokratis, antara lain sebagai berikut.

1.    Bersikap lemah lembut jika hendak menyampaikan pendapat (tidak berkata kasar ataupun bersikap keras kepala).

2.     Menghargai pendapat orang lain.

3.    Berlapang dada untuk saling memaafkan.

4.    Memohonkan ampun untuk saudara-saudara yang bersalah.

5.     Menerima keputusan bersama (hasil musyawarah) dengan ikhlas.

6.     Melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah dengan tawakal

7.     Senantiasa bermusyarawarah tentang hal-hal yang menyangkut kemaslahatan bersama.

8.     Menolak segala bentuk diskriminasi atas nama apapun.

9.    Berperan aktif dalam bidang politik sebagai bentuk partisipasi dalam membangun bangsa.

 

6.       Kesimpulan

1.     Q.S.Ali-Imran/3:159 dan H.R. at-Tirm³z³ menjelaskan bahwa musyawarah termasuk salah satu sifat orang yang beriman. Hal ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim terutama dalam hal-hal yang penting.

2.     Antara musyawarah (syura) dengan demokrasi terdapat titik temu, di mana dalam demokrasi terdapat prinsip syura, yaitu adanya kebebasan berpendapat, keterbukaan, dan kejujuran, sementara demokrasi, menjangkau ruang lingkup yang lebih luas.

 

Konsep toleransi dalam Islam dengan menghormati dan menghargai agama lain (tapi tetap dalam takaran Islam) adalah tak lain bertujuan agar tercipta kurukunan antar umat muslim dan non-muslim. Sehingga kita dapat meminimalisir berbagai konflik dan ketegangan yang ada.

Menjadi warga Indonesia berarti kita harus menerima dan mensyukuri semua kelebihan dan kekurangan yang ada di Indonesia. Mari sama-sama bangkit  berpangku tangan dan bersatu padu untuk menambal sedikit demi sedikit kekurangan yang ada. Kelemahan kita adalah kurangnya rasa bangga terhadap  Negara dan kita lebih suka menjiplak budaya luar negeri ketimbang melestarikan budaya kita sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar